Cara Kerja Mesin Injeksi Plastik

Pada proses / cara kerja Injeksi Plastik (Plastic Injection Molding Process) terdapat 2 bagian besar metode & tipe mesin yg dipakai, yakni: Mesin Injeksi Plastik Vertical (Vertical Injection Molding Machine) & Mesin Injeksi Plastik Horisontal (Horizontal Injection Molding Machine). Disini hanya akan dibahas mengenai proses Mesin Injeksi Plastik Horisontal dgn pertimbangan proses Mesin Horisontal yg lebih umum. Gambar berikut akan memperlihatkan simulasi Proses Injeksi Plastik Horisontal yg dibagi ke dalam 5 tahapan.

Cara Kerja Mesin, Cara Kerja Mesin Injeksi, Cara Kerja Mesin Injeksi Plastik, Vertical Injection Molding Machine, Horizontal Injection Molding Machine, Jasa Pembuatan Molding, Jasa Pembuatan Mesin, Jasa Pembuatan Mesin Industri, Jasa Pembuatan Mesin Pabrik, Jual Part Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Komponen Mesin Injeksi Plastik, Komponen Mesin Plastic Injection, Komponen Otomotif, Membuka Cetakan Membuka Cetakan, Membuka Mold Membuka Mold, Menutup Cetakan, Menutup Mold, Mesin Injeksi Plastik, Mesin Plastic Injection, Mold, Mold Jakarta, Molding, Molding Jakarta, Part Mesin, Parts Mesin Jakarta, Pembuatan Mesin, Pembuatan Mesin Industri, Pembuatan Mesin Pabrik, Plastic Injection, Plastic Injection Machine, Plastic Injection Molding Process, Proses Mesin Injeksi, Proses Mesin Injeksi Plastik, Teknik Mesin, Teknik Mesin Jakarta, Vertical Injection Molding Machine, Jual Mesin Injeksi Plastik, Jual Molding, Jual Aluminium Molding.

Cara Kerja Mesin Injeksi Plastik

 

  1. Menutup Cetakan (Mold Close). Dalam 1 siklus kerja proses injeksi, diawali oleh proses Menutup Cetakan. Istilah Mold dalam dunia Injeksi Plastik adalah cetakan untuk Proses Injeksi Plastik. Mold itu sendiri terdiri dari 2 bagian besar yaitu sisi “Core” dan sisi “Cavity”. Sisi Cavity diikat pada “Stationery Platen” Mesin Injeksi. Sedangkan sisi Core diikat pada “Moving Platen” mesin, bagian inilah yg bergerak membuka dan menutup. Pada proses menutup terbagi menjadi 4 urutan proses, yaitu : 1. Gerakan menutup pada kecepatan perlahan dengan tekanan rendah. (Low Mold Close Velocity & Low Mold Close Pressure). Tekanan yg dimaksud adalah tekanan hidrolik. Posisi awal cetakan adalah “terbuka penuh” yg diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan produk yg dihasilkan nantinya dapat dikeluarkan atau diambil dengan mudah. Dari posisi ini bergerak hingga posisi tertentu yg tidak terlalu jauh dari posisi “terbuka penuh” tadi. Gerakan ini dimaksudkan untuk mereduksi getaran mesin yg juga sekaligus merawat mesin itu sendiri, terutama system hidroliknya yg rentan terhadap tekanan hidrolik yg tiba-tiba. Contoh kerusakan yg paling ringan adalah kebocoran oli hidrolik yg dikarenakan pecahnya selang hidrolik, belum lagi kerusakan lain yg berupa kerusakan mekanis yg membutuhkan biaya lebih besar untuk memperbaikinya, sehingga biaya perawatan mesin akan tinggi. 2. Gerakan menutup pada kecepatan tinggi dengan tekanan rendah. (High Mold Close Velocity & Low Mold Close Pressure). Memulai gerakan ini pada posisi yg tidak jauh dari posisi “terbuka penuh”, dimana untuk gerakan lebih cepat sangat memungkinkan. Hal ini bertujuan untuk menghemat waktu proses secara keseluruhan. 3. Gerakan menutup pada kecepatan perlahan dengan tekanan rendah. (Low Mold Close Velocity & Low Mold Close Pressure). Sebelum cetakan menutup dengan rapat, maka cetakan harus bergerak perlahan dengan tekanan yg rendah untuk menghindari tumbukan. Hal inipun bertujuan untuk menjaga kondisi cetakan dan juga kondisi mesin agar selalu dalam performa yg baik dan dapat ber-produksi dengan lancar. 4. Menghimpit Cetakan dengan Tekanan Tinggi (High Mold Clamp). Posisi pada proses ini harus dibuat se-limit mungkin pada posisi menutup rapat setelah gerakan sebelumnya. Hal ini juga untuk menghindari tumbukan karena tekanan hidrolik yg relatif tinggi untuk menghimpit cetakan. Tekanan tinggi ini (Minimal 100 kg/cm²) dibutuhkan untuk menahan proses injeksi atau apa yg disebut “Cavity Force During Injection” nantinya.

 

  1. Injeksi Pengisian (Fill Injection). Setelah dipastikan Mold dihimpit dengan tekanan tinggi. Maka Unit Injeksi yg terdiri dari Nozzle, Barrel, dan Screw dan seterusnya. Bergerak mendekati Mold hingga Nozzle bersentuhan dengan Mold, juga dengan tekanan tinggi (Hingga 100 kg/cm²). Gambar di atas menunjukkan Nozzle sudah bersentuhan dengan Mold. Bagian Mold yg bersentuhan langsung dengan Nozzle disebut “Sprue Bush”. Kemudian mesin melakukan proses injeksi pengisian, yaitu menyuntikkan plastik cair ke dalam Mold. Pada proses ini melibatkan beberapa parameter yg bisa kita atur sedemikian rupa mengikuti tingkat kesulitan produk yg akan kita buat, yaitu : 1. Tekanan Pengisian (Fill Pressure). Mesin-mesin keluaran saat ini memiliki variasi tingkat Tekanan Pengisian lebih dari 2 tingkat, dan juga diikuti dengan variasi posisi dari tiap-tiap Tekanan Pengisian tersebut. Sehingga kita dapat menentukan di posisi manakah ketika plastik cair membentuk produk membutuhkan besaran Tekanan Pengisian “sekian” nilainya, dan di posisi lain dengan masih produk yg sama membutuhkan besaran Tekanan Pengisian “sekian”, dan seterusnya. Besarnya Tekanan Pengisian (Filling Pressure) yg kita atur sekedar lebih tinggi dari Tekanan Pengisian sesungguhnya, atau sekitar 30%. Tekanan ini untuk menghadapi fluktuasi tekanan ketika Proses Pengisian berlangsung dengan memperhatikan “Pressure Gauge” (alat ukur tekanan Hidrolik) yg tersedia pada bagian unit injeksi, atau yg ditunjukkan pada layar monitor bagi yg sudah digital. Fluktuasi tekanan ini akibat adanya hambatan-hambatan aliran plastik cair di saat mengalir atau memasuki ruang-ruang di dalam Mold, dan Tekanan Pengisian tidak boleh dikalahkan oleh hambatan ini. Misalkan pada suatu mesin terdapat 3 tingkat parameter Tekanan Pengisian yaitu : 1. PF1 dengan besaran 90 kg/cm² pada posisi (PFS1) 200 mm. 2. PF2 dengan besaran 120 kg/cm² pada posisi (PFS2) 150 mm. 3. PF3 dengan besaran 100 kg/cm² pada posisi (PFS3) 70 mm. 2. Kecepatan Pengisian (Fill Velocity). Terdapat variasi tingkat kecepatan yg bisa kita atur dan dibutuhkan untuk menghindari adanya kondisi hasil produk yg tidak diinginkan. Posisi-posisi tingkat kecepatan inipun bisa kita atur disesuaikan dengan posisi aliran plastik ketika membentuk produk. Pada mesin sekarang, setidaknya terdapat 5 tingkat kecepatan dengan 5 posisinya, atau bahkan lebih. Misalkan : 1. PV1 dengan besaran 40% pada posisi “Shot Size” 200 mm. 2. PV2 dengan besaran 60% pada posisi (PVS1) 170 mm. 3. PV3 dengan besaran 70% pada posisi (PVS2) 150 mm. 4. PV4 dengan besaran 50% pada posisi (PVS3) 70 mm. 5. PV5 dengan besaran 10% pada posisi (PVS4) 20 mm. 6. Berakhir pada posisi “V-P Change Over” 10 mm. Hasil produk dari proses ini masih belum sempurna dengan menyisakan sedikit, dan akan disempurnakan pada proses selanjutnya. Jaminan terhadap kestabilan proses berkelanjutan berada di bagian ini, sehingga juga menentukan kestabilan hasil produk yg dibuat. Untuk mesin-mesin terdahulu yg hanya menyediakan 1 tingkat Tekanan Pengisian dan 1 atau 2 tingkat Kecepatan Pengisian. Hal ini tentu saja membatasi kemampuan mesin ketika menghadapi produk dengan tingkat kesulitan tertentu, walau proses setting parameternya relatif mudah dan cepat.

 

  1. Injeksi Menahan (Holding Injection). Penyempurnaan hasil produk berada pada bagian proses ini. Sengaja harus dibuat seperti itu agar pada proses penyempurnaan nantinya hanya akan membutuhkan nilai yg benar-benar efisien. Pada proses ini tidak lagi melibatkan kecepatan di dalam setting parameternya, hanya besaran tekanan yg kita atur beserta waktu yg kita butuhkan untuk itu. Pada mesin sekarang terdapat 2 atau lebih Tekanan Holding dengan 2 atau lebih setting waktu yg disediakan. Misalkan : 1. PH1 dengan besaran 40 kg/cm² dengan waktu (TPH1) 0.5 second. 2. PH2 dengan besaran 30 kg/cm² dengan waktu (TPH2) 1 second. 3. PH3 dengan besaran 20 kg/cm² dengan waktu (TPH3) 2 second. Ketepatan besaran Tekanan sangat menentukan hasil produk yg dibuat, terlalu besar akan masalah. Begitu juga bila kita buat terlalu kecil. Kebutuhan tingkat Tekanan Holding harus berdasarkan pertimbangan kebutuhan terhadap hasil produk. Bila produknya relatif sederhana cukup kita aktifkan 1 saja tingkat Tekanan Holding nya, dan bisa tambahkan bila ternyata tidak cukup untuk produk yg lain. Pada mesin terdahulu hanya menyediakan 1 saja tingkat Tekanan Holding dengan 1 tingkat waktu yg dibutuhkan. Cara Kerja Mesin, Cara Kerja Mesin Injeksi, Cara Kerja Mesin Injeksi Plastik, Vertical Injection Molding Machine, Horizontal Injection Molding Machine, Jasa Pembuatan Molding, Jasa Pembuatan Mesin, Jasa Pembuatan Mesin Industri, Jasa Pembuatan Mesin Pabrik, Jual Part Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Komponen Mesin Injeksi Plastik, Komponen Mesin Plastic Injection, Komponen Otomotif, Membuka Cetakan Membuka Cetakan, Membuka Mold Membuka Mold, Menutup Cetakan, Menutup Mold, Mesin Injeksi Plastik, Mesin Plastic Injection, Mold, Mold Jakarta, Molding, Molding Jakarta, Part Mesin, Parts Mesin Jakarta, Pembuatan Mesin, Pembuatan Mesin Industri, Pembuatan Mesin Pabrik, Plastic Injection, Plastic Injection Machine, Plastic Injection Molding Process, Proses Mesin Injeksi, Proses Mesin Injeksi Plastik, Teknik Mesin, Teknik Mesin Jakarta, Vertical Injection Molding Machine, Jual Mesin Injeksi Plastik, Jual Molding, Jual Aluminium Molding.

 

  1. Isi Ulang dan Pendinginan (Charging & Cooling). Isi ulang (Charging) plastik cair untuk siap disuntikkan pada siklus selanjutnya, bersamaan waktunya perhitungan waktu Pendinginan pun (Cooling) dimulai. Parameter yg direkomendasikan adalah waktu Pendinginan (Cooling Time) harus lebih lama dari waktu Isi Ulang (Charging Time). Bila waktu Charging yg lebih lama, maka yg terjadi adalah tumpahan material plastik dari nozzle ketika Mold Terbuka pada proses berikutnya. Proses Charging sendiri adalah berputarnya Screw dengan bantuan Motor Hidrolik ke arah putaran yg telah ditentukan, sehingga plastik pellet masuk ke dalam Barrel, digiling oleh Screw, dan sampai di depan Torpedo sudah dalam keadaan cair dan siap untuk disuntikkan ke dalam Mold. Tentu saja dengan bantuan suhu Barrel yg dapat kita atur sesuai spesifikasi jenis plastik yg digunakan, yaitu pada suhu titik cair nya. “Check Valve” yg terbuka, seperti pada gambar di atas. Dengan kondisi adanya aliran dari belakang Torpedo menuju bagian depan Torpedo, dan tertutup ketika ada usaha aliran plastic cair dari depan ke belakang Torpedo. Jadi alat ini berfungsi sebagai katup satu arah.

 

  1. Membuka Cetakan (Mold Open). Pada proses ini terdapat 5 urutan kerja, yaitu : 1. Melepas Himpitan pada Cetakan (Mold Clamp Release). Yaitu dengan mengembalikan ke tekanan normal pada system hidrolik yg bekerja untuk menghimpit cetakan yg sebelumnya bertekanan tinggi. 2. Gerakan membuka pada kecepatan perlahan dengan tekanan rendah. (Low Mold Open Velocity & Low Mold Open Pressure). Dari keadaan rapat, membuka secara perlahan untuk menjaga kondisi cetakan yg rentan terhadap kerusakan akibat gesekan yg terjadi antara sisi Core dan sisi Cavity. 3. Gerakan membuka pada kecepatan tinggi. (High Mold Open Velocity). Membuka dengan cepat dengan posisi yg memungkinkan setelah lepas dari pergesekan antara Core dan Cavity, hal ini juga untuk menghemat waktu proses. 4. Gerakan membuka pada kecepatan rendah. (Low Mold Open Velocity). Sebelum posisi cetakan terbuka penuh, maka gerakan membuka cetakan harus perlahan agar tidak terjadi overlap atau posisi terbuka yg “kelebihan”. Kecepatan rendah ini juga dimasudkan agar posisi terbuka penuh adalah stabil posisinya dari satu siklus ke siklus kerja berikutnya. Hal ini untuk mempermudah kerja Robot disaat mengambil produk dari dalam cetakan. 5. Gerakan melepas produk dari dalam cetakan (Ejection). Ejector mendorong produk dari sisi Core agar mudah diambil, tentu saja produk harus menempel pada sisi Core ketika cetakan terbuka, dan bukan menempel pada sisi Cavity. Walaupun bisa saja dibuat produk nya menempel pada sisi Cavity, tentu aja dengan pertimbangan produk dan design cetakan yg dirancang demikian. Proses Ejection ini pun terdapat parameter yg dapat kita atur, yaitu : Jarak, tekanan hidroliknya, kecepatan, dan berapa kali mendorongnya. Parameter ini tentu saja tergantung kebutuhan dan bentuk produknya. Maka 1 siklus Proses Injeksi Plastik telah selesai, atau juga biasa di sebut 1 Shot. Dalam keadaan operasi Full Auto dengan menggunakan Robot sebagai pengambil produk, maka akan kembali ke proses 1 yaitu menutup cetakan dan seterusnya berulang-ulang, atau terus menerus hingga plastik pellet habis. Atau proses produksi telah dimulai untuk menghasilkan jumlah produk yg banyak, tergantung pesanan.

 

Catatan :

Detail Proses 1 sampai 5 akan muncul pada postingan berikutnya, dan Insya Allah juga disertai gambar-gambar visualisasi dan simulasi guna membantu anda memahaminya, untuk itu mohon bersabar. Dan mungkin akan saya buatkan link nya dari postingan ini. Tidak hanya itu, saya pun akan masuk ke pembahasan masalah produk dan solving-nya.

 

Jual Mesin Injeksi Plastik

Cara Kerja Mesin, Cara Kerja Mesin Injeksi, Cara Kerja Mesin Injeksi Plastik, Vertical Injection Molding Machine, Horizontal Injection Molding Machine, Jasa Pembuatan Molding, Jual Mesin Injeksi Plastik, Jasa Pembuatan Mesin, Jasa Pembuatan Mesin Industri, Jasa Pembuatan Mesin Pabrik, Jual Part Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Moulding, Jasa Pembuatan Moulding, Buat Moulding Jakarta, Komponen Mesin Injeksi Plastik, Komponen Mesin Plastic Injection, Komponen Otomotif, Membuka Cetakan Membuka Cetakan, Membuka Mold Membuka Mold, Menutup Cetakan, Menutup Mold, Mesin Injeksi Plastik, Mesin Plastic Injection, Mold, Mold Jakarta, Molding, Molding Jakarta, Part Mesin, Parts Mesin Jakarta, Pembuatan Mesin, Pembuatan Mesin Industri, Pembuatan Mesin Pabrik, Plastic Injection, Plastic Injection Machine, Plastic Injection Molding Process, Proses Mesin Injeksi, Proses Mesin Injeksi Plastik, Teknik Mesin, Teknik Mesin Jakarta, Vertical Injection Molding Machine, Jual Mesin Injeksi Plastik, Jual Molding, Jual Aluminium Molding.. 

Hits: 106